Blogger Widgets

Glee Cast - Total Eclipse of the Heart

my

Jumat, 23 Mei 2014

Mungkin.. aku yang terlalu berharap.

Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu. Aku menjadi takut kehilangan kamu. Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu kunomorsatukan? Tapi... entah mengapa sikapmu tidak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan? Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu, dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur, apalagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah? Bisakah? Janjimu terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan lagi berkali-kali. Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan–juga kautinggalkan? Apakah aku tak berharga di matamu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturanmu? Di mana letak hatimu?! Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika kauterus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali kauciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan. Sadarkah jemarimu selalu lukai hatiku? Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku. Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kauletakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah nanti seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu? Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku. Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah! Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu. Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya, yang berkata sayang dengan gampangnya. "Dari seseorang yang kehabisan cara membuktikan rasa cintanya"

Kamis, 22 Mei 2014

Bisakah kau bayangkan?

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam. Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia.... dulu. Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku? Temanmu bilang, kamu melankolis, senang memendam, dan enggan bertindak banyak. Kamu lebih senang menunggu. Tuan, tak mungkin kautak tahu ada perasaan aneh di dadaku. Kekasihku, tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kautersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi. Semua telah berakhir. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu. Mungkin sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku. Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun punya status, meskipun berada dalam ketidakjelasan. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh. Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku. Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu. Setiap hari, setiap waktu, setiap aku mengingatmu; aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba? Sementara ini saja, aku tak kuat untuk mengingatku. Sulit bagiku menerima kenyataan. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti. Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tahu apa salahku, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih? Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir. Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu memperjuangkanku sebagai tujuan. Tapi, kurasa tidak. Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari, aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam. Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari harus mengingatmu mengulang masa lalu? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja? Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.

Jika kau merasakan jadi aku !

Akhirnya, aku sampai di tahap ini. Posisi yang sebenarnya tak pernah kubayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan jatuh terlalu dalam. Kukira langkahku sudah benar. Kupikir anggapanku adalah segalanya. Aku salah, menyerah adalah jawaban yang kupilih; meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu. Aku terpaksa berhenti karena tugasku untuk mencintaimu kini telah selesai (tapi kurasa tidak). Hari-hariku yang tiba-tiba kosong dan berbeda ternyata cukup membawa rasa tertekan. Mungkin, ini berlebihan. Tentu saja kaupikir ini sangat berlebihan karena kamu tak ada dalam posisiku, kamu tak merasakan sesaknya jadi aku. Jika aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini. Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak saling kenal. Aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis? Aku pernah merasakan fase itu. Aku juga manusia biasa. Kuharap kamu memahami dan menyadari. Aku berhak merasa bahagia karena membaca pesan singkatmu disela-sela dingin malamku. Aku boleh tersenyum karena detak jantungku tak beraturan ketika kamu memberi sedikit kecupan meskipun hanya berbentuk tulisan. Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kautak menganggapku ada adalah hal paling sulit yang bisa kumengerti. Aku masih belum mengerti. Mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi di mana perasaanmu? Tatapanmu dingin, sikapmu dingin, dan mengacuhkanku. Aku hanya temanmu. Hanya temanmu. Temanmu! Jika kauingin tahu, aku kesesakan dalam status yang menyedihkan itu. Aku terkatung-katung sendirian. Meminum asam dan garam, membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. Begitu banyak yang kulakukan, mengapa matamu masih belum terbuka dan hatimu masih tertutup ragu? Sejak dulu, harusnya tak perlu kuperhatikan kamu sedetail itu. Sejak tahu kehadiranmu, harusnya aku tak menggubris. Aku terlalu penasaran, terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku tak mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya meluruhkan air mata di pipi. Iya. Aku bodoh. Puas? Semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir. Ini bukan akhir yang kupilih. Seandainya aku bisa memilih cerita akhir, aku hanya ingin mendekapmu, sehingga kautahu; di sini aku selalu bergetar ketika mendoakanmu.

Minggu, 30 Maret 2014

Aku? Tanpa sosok sepertimu.

Hem.. Malam ini sama seperti malam sebelumnya.. Malam dimana aku dengan setumpuk rindu yang kutahu takkan pernah berubah untukmu. Aku teringat hari dimana kau selalu mengisi kekosongan hatiku, memberikan sedikit perhatianmu kepadaku meski aku tau sesibuk apakah kau dengan duniamu. Kau yg sama sekali tak pernah berkata kasar atau pun marah kepadaku. Indahnya dulu.. mungkin dulu aku adalah orang yang paling bahagia yang pernah mengenalmu bahkan mencicipi indahnya kebersamaan denganmu. Bayangmu selalu terngiang dipikiranku,berjalan-jalan seenaknya setiap waktu diotakku. Ketika aku tersenyum, bayangmu selalu ada untukku. Ketika aku bersedih, bayangmu seolah menjadi alasan aku untuk tersenyum kembali. Yah mungkin ini sedikit lebay, tapi ini kenyataanku dengan sosokmu AD Andai saja kita saling terbuka, andai saja kita mau jujur dengan hati kita, mungkin pikiranku tak sekacau malam itu. Malam itu seluruh perasaan didunia ini sedang menghampiriku. Ketika aku mulai merasakan perubahan-perubahan sikapmu terhadapku aku mulai merasa ada ‘tali’ yang menjerat hatiku hingga merasa sesak. Air mataku buyar, kelopak mataku tak mampu menahannya lagi. Bahkan sosok bayangmu pun tak mampu menjadi alasanku untuk tersenyum lagi. Aku wanita cengeng yang tak mampu menepis rasa pedihku. Malam itu suram. Aku kacau. Seharusnya aku tau dari awal, seharusnya aku sadar dari awal. Aku ini siapa? Aku sebagai apa untukmu? Apa aku ini punya hak untuk memikirkanmu? Aku yang salah yang terlanjur menaruh rasa sayang yang terlalu dalam. Aku yang salah yang selalu memikirkanmu. Aku yang salah yang selalu menunggu telepon genggamku berdering berharap itu adalah sms darimu. Aku yang salah yang terlalu berharap menjadi sosok yang berharga dihidupmu. Seharusnya aku tak sedih jika ini terjadi, karena aku bukan sosok yang kau harapkan. Karena aku bukan sosok yang bisa mengerti maksud amarahmu. Karena aku bukan sosok yang bisa membaca dan mengerti isi hatimu. Kini segalanya telah kupasrahkan kepada Tuhan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Hanya saja aku sedang berusaha memaksakan diri untuk merelakan kepergian sosok bayangmu yang dulu begitu manis melekat diotakku. Kini aku tak punya hak cemburu atau membenci sosokmu, itu bukan pilihanku. Aku hanya mampu menahan rindu, membungkus rasa sayang didalam hati. Hanya didalam hati. “tali” itu semakin menjerat perasaanku. Sakit? Aku tau kau tau perasaanku ini. Tuhan.. Mungkinkah ini yang terbaik untuk aku dan dia? Jika dia telah menemukan sosok wanita yang dia harapkan, tolong bahagiakan dia .. Tuhan .. Terimakasih Engkau telah memberi kesempatan kepadaku untuk mengenalnya.. Sampaikan rinduku pada dia..... Sampaikan kata maafku untuknya.. Aku merindukan senyum manisnya untukku, AD Dedicated for my Cahya AY♥.

Bertahan~

Ketika aku mulai jenuh, ketika aku mulai bosan, disaat itulah aku mulai mengerti apa yang tak seharusnya aku lakukan. Yap. Bertahan. Hala yang seharusnya tak ku lakukan dari duluuu. Hingga rasa kecewa hinggap di perasaanku. Bertahan sungguh hal yang menjengkelkan bagiku, bertahan untuk suatu hal yang tak pasti. Suatu hal yang sangat amat menyia-nyiakan hidupku ini. Sampai suatu saat, aku memutuskan untuk pergi. Ya. PERGI. Karna bagiku tak ada gunanya lagi aku bertahan. Bertahan yang hanya membuatku semakin lemah dan cengeng. Tapi entah, ketika aku mulai mencoba pergi dan melupakan semuanya, rasa sayang dan cinta itu semakin kuat. Sungguh aku benar-benar tak mengerti apa mau hatiku. Yang semakin aku menjauh rasa kerinduan itu kembali hadir. Aku tak mengerti. Benar. Aku tak mengerti. Aku mulai berfikir, apa aku harus kembali untuk bertahan? Menunggu? Aaah. Sungguh hal yang menurutku tak ada gunanya. Tapi ketika disuatu malam aku merenungkan, merenung, renung. Ah sudahlah~ Sebaiknya aku bertahan walaupun semua itu hanya sia-sia. Dan, akhirnya aku memilih untuk bertahan. Semoga ada akhir yang indah untuk segala keputusanku itu :)

Sabtu, 15 Maret 2014

UTS!

Ulangan tengah semester bentar lagi datang. Bukan bentar lagi sih. Besok malah. H-1. Saatnya otak mikir lebih keras dari biasanya. Ini kedua kalinya aku menjalani ulangan tengah semester 2 di SMA. Sekolahku memang belum menerapkan sistem kurikulum 2013, tetapi lagi-lagi aku dan teman-teman seperjuangan jadi uji coba pemerintah. Yang pertama, mereka mengganti sistem Ujian Nasional yang semula hanya 5 paket menjadi 20 paket. Lalu, mereka menerapkan sistem kurikulum 2013 yang tujuannya menyempurnakan pola pikir. Hahaha kurikulum 2013 ini menurut saya sangat memberatkan, bagaimana tidak, 16 matpel dalam seminggu ditambah semua matpel harus mengambil 3 nilai. Yah, guru-guru jadi makin lomba buat ngasih tugas ke murid neeehh.. Beban tugas yang memang sangat sangat berat :3 Selama SMA aku jarang ngeluyur, karna emang gak ada waktu buat ngeluyur :v Dann............ UTS datang UTS datang!!! Ini UTS 2 cemaaaan! Semangaaaatttttt!!!!! Mweheheh

Rabu, 26 Februari 2014

.Tentang Kamu.

Kamu. Kamu ituuu.. Kadang baik, kadang nyebelin, kadang perhatian, kadang cuek, bahkan kadang kayak orang yang baru kenal. Kamu kadang suka lupa, siapa aku. Kamu selalu nganggep aku kayak tempat persinggahan. Dan lucunya, aku tetap terima. Kamu selalu melupakan aku. Aku bisa mengerti, mungkin kamu sedang sibuk. Tapi, apa harus setiap saat kau tak ada kabar? Atau terkadang kamu selalu bersikap dingin padaku. Selama jalan sama kamu, aku berusaha jadi yang terbaik. Anehnya itu masih tetap kurang. Lalu, apa kamu sudah sangat sempurna menjadi pasanganku selama ini? Aku yang mencoba mengalah. Nyatanya kamu tidak pernah sadar. Kamu selalu meninta maaf padaku, selalu. Tapi tak pernah ada perubahan. Ya, aku hampir lupa. Kamu selalu menganggap dirimu yang paling sempurna. Aku tau itu. Sampai kapan pun juga, kamu masih tetap sama. Seperti ini, tidak mau memulai semuanya. Dengan kata lain; aku yang berjuang sendiri. Yang aku tau, dalam suatu hubungan, dua orang itu yang akan berjuang untuk mempertahankan hubungannya. Tapi aku dan kamu berbeda. Kamu terlalu sibuk dengan kesibukanmu. Kamu memang begitu. Semaumu. Melakukan semua hal tanpa memikirkan aku. Aku yang selalu berjuang agar hubungan kita tidak berakhir. Aku yang selalu mengerti. Lucu, ya? Aku seperti orang yang sudah tidak di harapkan tapi tetap setia menunggu. Bukan, bahkan lebih parah dari itu. Aku mengejar-ngejar sosok yang bahkan sepertinya sudah menatap ke arah lain. Mungkin bagi sebagian orang aku bodoh. Tapi baig diriku sendiri, aku sudah hebat. Aku masih betah bertahan dengan seseorang yang sepertimu. Seperti batu. Kamu hanya belum pernah merasakan apa itu "penyesalan". Ya, kamu tau, kan? Penyesalan memang selalu datang di akhir. Karena hubungan kita belum berakhir, maka dari itu kamu belum merasakannya. Kamu belum pernah merasakan bagaimana menyesalnya kehilangan seseorang yang selalu ada untukmu, walaupun kau selalu mengacuhkannya. Aku selalu berjuang, walaupun sendiri. Sampai akhirnya, aku menemukan titik jenuh; Jadi, untuk apa aku terus mempertahankan semua hal yang tidak seharusnya aku pertahankan? Aku rasa, cukup sudah. Kita sudah sama-sama bosan. Dan tidak ada lagi alasan kita untuk saling menatap walaupun hanya untuk beberapa menit. Ya, keputusanku sudah bulat; aku pergi. Setelah beberapa waktu, aku baru menyadari semuanya. Aku sudah lebih banyak tersenyum sekarang. Kamu ingat? Selama denganmu, aku sudah lupa berapa kali aku meneteskan air mata untukmu. Dan kamu tau? Sebenarnya banyak orang yang pantas aku perjuangkan. Bukan kamu. Kenapa kau tidak pernah sadar sejak dulu saat aku berjuang sendirian mempertahankan hubungan kita? Kenapa dulu kamu begitu cuek, bahkan untuk menatap atau mengobrol denganku saja tidak ada waktu? Sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan. Banyak hal yang ingin aku bicarakan. Tapi aku sadar, bukan kah semuanya sudah berlalu? Lalu, untuk apa kita bicarakan hal yang saat ini sudah tidak penting lagi untukku? Bukan kah sejak dulu kesibukanmu jauh lebih penting? Biarkan semuanya tetap begini. Aku dengan seseorang yang bisa menghargaiku, dan kamu carilah kebahagiaanmu yang baru. Perempuan yang lebih mengerti kamu, kesibukanmu, serta hal-hal menarik yang ada dalam dirimu. Biarkan aku bahagia. Ini semua tentang kamu. Tentang cerita kita yang sudah lama berlalu. Tentang seseorang yang mengajarkanku arti kesabaran serta cinta.